|
Jaman telah berubah, modernisasi di sana sini, manusia dimanjakan kecanggihan beraneka temuan baru teknologi yang melesat bak peluru menembus mencabik dan merobek seluruh sendi kehidupan bermasyarakat, beragam aktivitas kita jadi terbantukan, interaksi antar manusia pun tak Lagi mengenal batas waktu dan tempat, masyarakat seolah tersihir, kehidupan hanya akan berdenyut lewat ketersediaan yang harus serba hi-tech, tanpa itu tak ada satu pun dari kita yang sanggup menjalaninya.
Misalnya, penemuan alat komunikasi seluler atau yang lebih dekenal HP (hand phone) mampu menjungkirbalikkan pola pikir kita tentang pertukaran percepatan arus informasi. Dulu kecanggihan alat ini hanya sebagai simbol dari kalangan kelas atas, namun lihatlah kini semua strata sosial menggunakannya, tak terkuecuali anak-anak. Fitur yang ada pun lebih diarahkan untuk memanjakan mereka, mulai dari games, musik, foto bahkan film, pendeknya semua tersedia dalam genggaman. Selain HP yang tak kalah dahsyat adalah penemuan aneka permainan digital dengan teknologi virtual yang memukau lewat video games baik (stand alone) Play station maupun melalui media internet, telah menyihir anak-anak kita hingga kecanduan dengan permainan yang dijajakan. Menurut mereka Ini abadnya mereka, abad video games. Dan, banjir video games telah menciptakan mega keajaiban bagi si upik dan si buyung : memungkinkan mereka menelusuri lorong waktu dan tempat ke mana saja tanpa batas tanpa harus berjalan 'Jalan-jalan' tanpa harus beringsut dari tempatnya. Inilah kejeniusan teknologi. Tapi teknologi adalah juga pisau bermata dua : menuntaskan masalah sekaligus membikin masalah baru. Dalam masa tumbuh kembang, menurut pakar psikolog, anak-anak sebetulnya perlu berlatih untuk bersosialisasi, berkreatifitas, dan berimajinasi. Mereka perlu ruang ekspresi yang lebih dari sekadar ruang virtual seperti play station atau video games. Mereka perlu wahana bermain di dunia nyata, ruang yang menyodorkan stimulus. Sayangnya, ruang itu seringkali sudah tak tersedia. Coba tengok saja perilaku anak-anak kita di Kota Bogor ini. Ruang tempat bermain mereka sedikit demi sedikit tergantikan dengan pusat perbelanjaan Fakta yang belakangan terjadi adalah : anak-anak tak lagi leluasa bermain di sekitar rumah. Area bermain semakin sempit. Sebagai gantinya, anak-anak cukup dipuaskan piranti elektronik di rumah dan pada gilirannya akan menghambat daya kreatifitas anak. Ruang terbuka memang kian langka, terutama di kota. Ruang-ruang yang ada tergusur oleh pembangunan gedung bertingkat, oleh pusat-pusat bisnis. Ketersediaan taman kota sebagai tempat sarana bermain gratis anak-anak belum opimal dimanfaatkan. Bahkan nyaris sepi dari anak-anak. Kota pun akhirnya memiliki caranya sendiri dalam menyediakan ruang bermain bagi si upik: kota menawarkan mal. Jadilah mal salah satu tujuan, jika bukan yang paling utama, bagi anak-anak untuk melepas penat terutama di akhir pekan. Mal sebetulnya cuma pusat pertokoan dan hiburan, tapi lihatlah pengelola pusat perbelanjaan seolah gencar berlomba menarik pengunjung sebanyak-banyaknya dengan menyediakan “fasilitas” zona bermain untuk anak-anaknya,.Tapi semua serba mekanis, dan hanya bisa dimainkan melalui gemerincing koin yang kita masukan dalam alat permainan tersebut. Bayar, tentu saja. Mal bukan tempat yang baik untuk membentuk karakter anak. persinggungan yang kental dengan mal tatkala anak masih berusia belia, dikhawatirkan akan menyemai benih-benih konsumerisme dalam jiwa si anak kelak. Lalu, gimana dong kita harus menyikapinya, Intan ibu rumah tangga yang memiliki 2 anak balita, yang tinggal di Lebak PIlar punya catatan tersendiri. Kesibukannya bekerja bersama sang suami membuat dirinya merasa bersalah kepada kedua buah hatinya , karena itu untuk menebus “dosa” nya setiap sabtu dan minggu Ia kerap menyambangi mal-mal yang ada di kota Bogor untuk menghibur putra-putrinya. Suka tidak suka, mal akhirnya dipilih untuk mengurangi rasa jenuh buah hatinya. Dan, koceknya pun mengalir tak keruan. Acara cuci mata seringkali menjelma menjadi acara belanja barang-barang yang tak perlu. Sulit, misalnya, untuk tidak mengabulkan permohonan si buyung yang ngiler melihat mainan. Belum lagi rengekan sang anak yang tidak mau sekali saja bermain dengan mesin permainan memukul kura-kura kegemarannya. Rencana semula mau refreshing, yang dirasakan malah pusing tujuh keliling. Padahal kebutuhan rekreasi dirasakan hampir setiap akhir minggu. Tinggal di rumah? Tentu bukan pilihan menyenangkan. Anggota keluarga selalu membutuhkan suasana baru. Refreshing menjadi kata penting di tengah denyut kehidupan kota yang sarat tekanan. Tapi kemana membawa si upik jalan-jalan di akhir pekan? Simak catatan Nita seorang Ibu Muda yang pernah bekerja di Singapura. Begitu menginjakkan kaki kembali di tanah air, kami sekeluarga merasa sangat kehilangan. Kehilangan rutinitas akhir pekan kami, yaitu membawa anak kami bermain ke taman-taman kota. Seperti kata pepatah, 'tak ada rotan, akar pun jadi'. Banyak tempat tidak harus mal bisa dijadikan lokasi asyik memboyong si upik dan si buyung jalan-jalan. Ruang-ruang terbuka masih terselip di sana-sini. Siapa sangka, misalnya, taman angin-angin yang terselip di deretan ruko dan banyak bangunan di Jalan Sudirman menjadi pilihannya setiap akhir pekan, bermain bercengkerama “Sayang yaaa coba kalau tamannya agak luas dan disediakan arena bermain berseluncur, ayunan, putaran, atau disediakan juga beraneka permainan tradisional, petak umpat, enggrang, demprak, galasin, kasti yang merupakan permainan asli tradisonal warisan leluhur nenek moyang kita yang lambat laun mulai ditinggalkan anak-anak generasi penerus kita,” lirihnya seraya bermain galasin dan dampu yang mungkiin sudah mulai asing di telinga anak-anak di era generasi serba hi-tech saat ini
|